Selamat datang di Webblog BEM FIS UNY - Badan Eksekutif Mahasiswa - Fakultas Ilmu Sosial - Universitas Negeri Yogyakarta 2012

Latest Post

Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Agustus 2012

Menjadi Mahasiswa yang Sesungguhnya



Menjadi Mahasiswa yang Sesungguhnya

“Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta! Masa yang lampau adalah berguna sekali untuk menjadi kaca bengala dari pada masa yang akan datang” (Bung Karno)

            Menjadi mahasiswa adalah sebuah anugerah yang sangat luarbiasa. Butuh kerja keras dan perjuangan yang tak mudah untuk mendapatkannya, hal ini dapat dilihat dari ketatnya persaingan test akademik masuk perguruan tinggi yang diikuti lebih dari ribuan dan bahkan jutaan calon mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Selain itu, persaingan finansialpun menjadi ajang yang tak kalah hebatnya untuk diperhitungkan pula, terutama bagi kalangan masyarakat kaum kelas menengah kebawah.
Biaya pendidikan yang kian meroket, ditambah kian menjamurnya pungutan biaya lainya semakin menjadikan tamparan keras terhadap potret kondisi nasib pendidikan dan berbagai permasalahan di negeri ini yang tak kunjung terselesaikan hingga sekarang. Potret pendidikan yang kian terdustakan oleh kapitalisme dan liberalisasi pendidikan yang telah mengubur dalam-dalam impian besar cita-cita luhur bangsa Indonesia untuk turut serta berperan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Kondisi inilah yang menjadikan paradigma masyarakat untuk berfikir ribuan ulang memutar otak yang semakin tergalaukan untuk menjadikan pendidikan sebagai prioritas emas dalam kehidupannya.
Jadi beruntunglah kalian kawan-kawanku semua wahai generasi bangsa yang sekarang ini telah benar-benar berkesempatan menjadi mahasiswa, Hidup Mahasiswa Indonesia !!!. Perjuangan demi perjuangan panjang telah kalian lalui, Meskipun demikian, sejatinya perjuangan belumlah berakhir karena dari sinilah awal perjuangan yang sesungguhnya dimulai. Perjuangan untuk menjadi mahasiswa yang sesungguhnya, mahasiswa yang visioner, mahasiswa yang aktif, responsif dan mampu berkontribusi lebih sebagai agent of change, sebagai pembebas segala pengikat belenggu kebodohan, kebobrokan, penindasan, mahasiswa yang mampu menjadi mesin penghancur tanggul-tanggul KKN yang kian terkokohkan dan menjadi mahasiswa  problem solver, kritis disegala hiruk pikuk problematika bangsa baik dari dari segi sosial, ekonomi, politik, sampai agama yang kian memprihatinkan untuk negeri tercinta ini.
Jika hanya sepuluh orang pemuda saja mampu mengguncangkan dunia seperti yang dikatakan oleh Soekarno, maka dengan hadirnya ribuan mahasiswa dan pemuda di era masa sekarang ini, sudah sangat jelas akan mampu mengguncang dunia dengan dahsyatnya dan tak hanya satu dunia saja, bahkan ratusan kali lipat dunia sekalipun akan mampu diguncangkan oleh pemuda dengan mudahnya.
Ingatlah kawan, generasi muda adalah generasi the leader of tomorrow, nasib dan masa depan sebuah bangsa dipertaruhkan dan ditentukan oleh kalian, ditangan kaum muda, mahasiswa Indonesia. Sehingga dari dari tangan-tangan kalianlah ribuan juta rakyat Indonesia yang bersimpah darah menanti dan menaruh harapan besar untuk mencetak perubahan menuju Indonesia yang lebih baik.
Sungguh ironis bila ribuan permasalahan yang ada di negeri ini, kita para mahasiswa hanya terpaku diam, apatis untuk memikirkanya dan bahkan enggan untuk terlibat didalamnya. Padahal mahasiswa adalah kaum intelektual, kaum dimana orang-orang yang memiliki segudang pemikiran yang mampu memberikan pencerahan atas problematika bangsa yang tengah melanda bertubi-tubi negeri ini. Mahasiswa merupakan symbol intelektualitas dan moralitas yang bersih baik dari manipulasi dan kosnpirasi yang ada, sehingga sudah saatnya mahasiswa bukan lagi sebagai penambah masalah, melainkan sebagai pemecah masalah karena mahasiswa adalah agent perubahan yang memiliki kelebihan baik dalam tingkat pengetahuan, daya nalar maupun kepekaan sosial yang lebih.
Dan pertanyaannya kini, masihkah kita akan terdiam dan apatis terhadap kondisi permasalahan dinegeri ini? Apakah cerminan dan potret segala kondisi bangsa pada saat ini atau hari ini belum mampu dan cukup untuk menyadarkan kita sebagai mahasiswa untuk terus bergerak melawan ketidakadilan dan ketimpangan sosial yang semakin merajalela, dari tindakan amoral, kasus Korupsi sampai kasus konflik SARA dan HAM maupun yang lain sebagainya yang telah mencoreng nama baik bangsa ini sebagai bangsa yang berbudi luhur? Dimanakah keberadaan mahasiswa, kaum muda, kaum intelek sekarang? Dimanakah semangat mereka, semangat pemuda dan mahasiswa tempo dulu yang pernah berkobar mendulang dan menggoreskan prestasi kejayaan untuk negeri ini?
Mari kawan, tidaklah pernah ada kata terlambat untuk kita kembali menyuarakan suara dengan lantang dan keras, bahwa kita tegak berdiri disini untuk negeri kita tercinta, Negara INDONESIA, Hidup Mahasiswa, Hidup Rakyat Indonesia!!! mari kita bangkit untuk terus menjadi garda terdepan, mari genggam tangan kita bersama-sama, bangkitkan semangat mahasiswa Indonesia baru, kita rebut kembali masa-masa kejayaan tempo dulu yang pernah ditorehkan pemuda dan mahasiswa dimasa lalu dengan jiwa-jiwa semangat baru kita sekarang, tanpa kenal rasa lelah, tanpa kenal rasa takut, dan tanpa kenal kata putus karena perjuangan akan terus kita kobarkan sampai pada titik darah penghabisan untuk menuju Indonesia yang sejahtera nan jaya.
Sudah cukup terlalu lama kita telah terdiam dan termenung dengan segala kondisi seperti saat ini, sudah saatnya kita sekarang sadar, bahwasanya ribuan juta rakyat Indonesia membutuhkan kita kawan-kawan. Mari kita ukir dan ciptakan sejarah baru, generasi kita yang cerdas, intelek, mandiri, cendekia dan tentunya generasi yang berkarakter karena sejatinya kita semua adalah mahasiswa yang sesungguhnya itu. [*]

“Jangan pernah tanyakan apa yang dapat negara berikan kepadamu, tetapi pertanyakanlah pada dirimu, apa yang dapat kamu berikan untuk negara !!!”

Penulis
Ahmad Syaiful Hidayat
Mahasiswa Pendidikan Geografi
Pimpinan Redaksi LENTERA
Kadept. MJ  BEM FIS UNY 2012
www.ipungberjuang.com

Di balik Ideologi Gerakan Mahasiswa


Di balik Ideologi Gerakan Mahasiswa

Kampus merupakan lahan ilmu yang ternyata menyimpan banyak misteri ideologi, mulai dari ideologi keagamaan sampai ideologi  sekuler. Mahasiswa merupakan sasaran empuk yang sangat mudah dirasuki oleh ideologi-ideologi tersebut, karena pemikiran mereka yang cenderung jernih, lugu, dan mengagungkan sesosok tokoh mahasiswa yang tercitrakan sebagai aktifis berprestasi atau jabatan yang sekiranya dapat dijadikan panutan bagi dirinya. Oleh karena itu, jargon “siapa cepat dia dapat!” merupakan parameter yang tepat untuk menggambarkan mengapa kita harus menyambut mahasiswa baru dengan acara yang terkemas rapi. Semakin kita dapat melakukan sambutan yang baik  kepada mereka, maka akan semakin besar pula kita untuk dapat rasuki ideologi tertentu kedalam pikiran mereka.
Ideologi adalah prinsip, yaitu keyakinan yang mengarahkan perilaku mahasiswa. Pada umumnya ideologi dijadikan sasaran arah langkah perbuatan mahasiswa, bertindak demi kebaikan orang banyak. Meskipun begitu, tetap ada pengecualian untuk mahasiswa dengan tipe karyawan. Mereka cenderung untuk bersikap apatis, hanya berfikir bagaimana mendapatkan sebuah hasil belajar dengan IPK setinggi-tingginya, bak dewa yang akan menghantarkan mereka kesebuah lahan pekerjaan. Mereka inilah yang biasa disebut sebagai mahasiswa kupu-kupu (kuliah- pulang- kuliah- pulang).
Mahasiswa dan ideologi adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Sejarah mencatat bahwa ideologi mahasiswa mampu meruntuhkan rezim yang pada akhirnya mampu mengubah garis sejarah. Misalkan pada tragedi 1998, saat itu mahasiswa mampu merobohkan era orde baru yang kurang lebih 32 tahun telah menghegemoni bangsa Indonesia. Mahasiswa adalah kaum intelektual sebagai pioneer perjuangan yang memperjuangkan nasib rakyat dan kaum tertindas.
Kini zaman mulai berubah, tantangan yang dihadapi mahasiswa pun ikut berubah. Mahasiswa tidak lagi dihadapkan pada seorang pemimpin yang memiliki kuasa penuh atas negaranya, namun lebih kepada banyak kepentingan yang berusaha menjadikan negara sebagai tempat untuk berkuasa. Tekait hal tersebut, nampaknya partai politik sudah menjadi rahasia umum untuk dibicarakan. Sudah banyak parpol yang berdiri di negara ini, karena saat ini parpol memiliki peran sebagai jasa angkut untuk memperoleh kekuasaan. Kekuatan parpol kini menjadi kendaraan untuk memperoleh kekuasaaan secara instan. Jika begini, kepentingan rakyat Indonesia pun terpecah menjadi beberapa golongan sesuai dengan kepentingan rakyat yang seperti apa yang akan dibela oleh masing-masing parpol. Seperti golongan rakyat jelata, rakyat elit, rakyat religius, dll.
Sejak era reformasi banyak perkembangan yang terjadi pada dunia pendidikan di bangsa ini, terutama pada tendensi mahasiswa yang membutuhkan penyesuaian dan pembinaan, baik dalam kebijakan ataupun organisasi eksternal. Melakukan pengayaan pengetahuannya, mahasiswa pun perlu mengikuti kegiatan-kegiatan, baik oleh organisasi intra ataupun organisasi ekstra. Hal ini tertera pada SK Dirjen Dikti no. 26/DIKTI/KEP/2002 tentang pelarangan organisasi ektra untuk masuk ke dalam kampus. Kondisi yang sangat riskan pada kontek ini adalah organisasi ektra cenderung lebih mudah digunakan sebagai alat kepentingan parpol sehingga dapat mengganggu suasana kampus sebagai tempat menimba pengetahuan. Namun, apakah peraturan tersebut benar-benar telah dilaksanakan ?
Cara cerdas yang dilakukan untuk mempropagandakan kepentingan politik ternyata mampu mengecoh peraturan tersebut. Misalnya, melakukan: 1) Gerakan Struktural, yaitu Gerakan membangun basis dukungan institusi, eleman internal kampus dan eksternal kampus. 2) Gerakan Kultural, yaitu Gerakan melayani masyarakat kampus, terutama mahasiswa, dan memastikan kehadiran golongan berkepentingan politik ini adalah anugerah terindah untuk kampus tercinta. 3) Gerakan Kader: Membagun basis kader melalui perekrutan secara massif (kuantitas) dan peningkatan kualitas kader agar kader-kadernya di kenal publik sebagai kader yang berkualitas tinggi dan mampu menunjukkan Wajah panutan secara benar sebagaimana kualitas-kualitas dalam kaderisasi yang dijalani.
Kasat mata terlihat begitu cerdas ketika gerakan-gerakan tersebut berkecimpung di dalam sistem organisasi intra kampus. Namun, nampaknya kecerdasan tersebut hanya dimiliki oleh penguasa-penguasa yang beredar pada jabatan tinggi dalam sistem kepartaian tersebut karena mau tidak mau mereka menutupi kepentingan politiknya dengan selimut wacana  yang dianggap baik di mata publik.
Jika sudah seperti ini, gerakan intelektual dan moral tak lagi pantas disandang oleh mahasiswa. Gerakan ini terkesan seperti melakukan pembodohan dan mungkin bisa saja menghalalkan berbagai cara demi kepentingan politiknya. Belum lagi bila memikirkan realitasnya, sebuah parpol yakni: membutuhkan kondisi keuangan yang baik untuk melancarkan gerakannya. Miris sekali jika itu diperoleh dari SPP mahasiswa apabila gerakan-gerakan ini berada pada intra kampus. Oleh karena itu dirjen dikti mengeluarkan SK tentang pelarangan organisasi ekstra untuk masuk dalam kampus karena riskannya wilayah mahasiswa apabila terkontaminasi dengan partai politik.
Sejatinya, gerakan mahasiswa adalah gerakan berbasis intelektual dan moral. Hati nurani mahasiswa adalah ideologi yang harus dikembalikan. Hati yang memiliki hak untuk selalu merasakan hati rakyat dan bukan digunakan sebagai robot kekuasaan politik. Memiliki daya kritis serta menjunjung tinggi gerakan budaya membaca, menulis dan berdiskusi.
Hidup Mahasiswa Indonesia !!

Handoko Tri Saputra
Mahasiswa P. ADP 2010
PJS Ketua BEM FIS UNY 2012

Melestarikan Budaya Mahasiswa: Membaca, Diskusi, dan Menulis


Melestarikan Budaya Mahasiswa: Membaca, Diskusi, dan Menulis
Oleh:
Jumai Rofiana

Mahasiswa merupakan generasi muda yang memiliki peranan penting dalam proses maju dan berkembangnya suatu bangsa. Tanggung jawab untuk meneruskan keberlangsungan negara merupakan tugas generasi muda, termasuk mahasiswa di dalamnya. Sehingga mahasiswa dituntut untuk memiliki potensi dan semangat yang luar biasa. Menjadikan mahasiswa yang luar biasa, cerdas, serta berbudi pekerti luhur yang sejalan dengan negara dan bangsa Indonesia memang tidaklah mudah, untuk itu mahasiswa harus benar-benar menghayati dimana dirinya ditempatkan. Budaya membaca, diskusi, dan menulis merupakan budaya yang bagus dikembangkan dan dilestarikan untuk menjawab tanggung jawab generasi muda mendatang.

Mahasiswa tanpa membaca, diskusi, dan menulis selayaknya perang tanpa membawa senjata, karena dari ketiga tradisi tersebut mahasiswa mendapatkan banyak pengetahuan. Membiasakan membaca adalah suatu hal yang dapat dikatakan wajib bagi mahasiswa, karena dengan membaca dapat memperoleh banyak informasi-informasi baru dan ilmu pengetahuan yang tak terbatas. Buku mampu membawa keliling dunia tanpa beranjak dari tempat membaca. Buku mampu memberikan ide-ide serta inspirasi yang luar biasa, jadi sudah seharusnya membaca menjadi sebuah kebiasaan dan kesenangan demi bertambahnya wawasan.

Membaca memberikan pengetahuan yang sangat banyak, untuk itu agar ilmu yang diperoleh dengan membaca bisa dibagikan kepada orang lain, diskusi merupakan salah satu cara untuk menyampaikannya. Diskusi memberikan banyak manfaat, seperti: memperoleh dan menambah wawasan serta informasi baru, berbagi ilmu, belajar menghargai pendapat orang lain, membiasakan berpikir kritis, memperoleh teman dan lain sebagainya. Budaya diskusi yang edukatif sangat penting dikembangkan dikalangan mahasiswa, sehingga pola pikirnya jauh lebih berkembang dan terbuka.

Zaman sejarah dimulai sejak ditemukannya tulisan, di mana manusia menuliskan peradabannya untuk mengenang peristiwa penting dan segala aktifitas manusia yang menjadi perhatian pada masanya. Sehingga selain membaca dan berdiskusi, mahasiswa perlu melestarikan budaya menulis untuk mengabadikan hal-hal penting yang akan menjadi sejarah di masa depan. Manusia tentu memiliki keterbatasan untuk mengingat, sehingga tulisan dapat dijadikan sebagai suatu bahan pengingat. Selain itu sebagai mahasiswa, menulis dapat dijadikan sebagai sebuah sarana yang positif dan edukatif untuk menyampaiakan banyak hal dan mengkritisi permasalahan-permaslahan yang ada. Menulis memungkinkan penulis untuk berbagi ilmu kepada lebih banyak orang, karena tulisan dapat dipublikasikan dan memungkinkan semua orang dapat membacanya.

Tiga budaya mahasiswa yang tidak hanya cukup dengan dijaga dan dilestarikan saja, tapi harus pula selalu dikembangkan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Mahasiswa bukakanlah sekumpulan manusia tanpa pergerakan, setidaknya bergerak untuk diri sendiri dan masyarakat sekitarnya. Melalui budaya membaca, diskusi, dan menulis akan menjadikan mahasiswa semakin memahami diri dan tujuan hidupnya, serta dapat memahami diri untuk mendukung kemajuan bangsanya.

Jumai Rofiana
Mahasiswa Pendidikan Sejarah 2009
Bendahara I BEM FIS UNY 2012

MEWUJUDKAN MAHASISWA IDEAL


MEWUJUDKAN MAHASISWA IDEAL
Oleh:
Cucu Sutrisno

“Kaum muda adalah aset bangsa dan menjadi mahasiswa mengembangkan aset itu jadi semakin berharga sebab selemah-lemahnya mahasiswa sejatinya memiliki pemikiran besar yang mampu mengubah dunia”
            Di berbagai Negara di dunia, kaum muda seringkali mendapat tempat mulia dimata masyarakat sekitarnya. Kemuliaan itu ada, karena kaum muda acapkali dianggap sebagai kalangan pembaharu yang akan membawa perubahan tatanan hidup bangsa kearah yang lebih baik. Bahkan, secara lugas sisi istimewa kaum muda dikatakan Founding Father sekaligus proklamator kemerdekaan Republik Indonesia Ir Soekaarno, bahwa sepuluh pemuda mampu mengguncangkan dunia. Maka sebagai pemuda seyogianya kita merasa bangga.
            Dewasa ini kaum muda tak lagi dapat mengubah dunia hanya melalui perjuangan fisik melawan penjajah. Di Indonesia khususnya, kaum muda mampu mengubah dunia melalui realisasi pemikiran-pemikiran besar yang dimilikinya. Seperti ketika pemuda pada tahun 1998 melakukan gerakan reformasi yang hasilnya dapat kita rasakan sampai saat ini. Seiring semakin banyaknya lembaga pendidikan dewasa ini, kecerdasan berpikir kaum muda untuk mewujudkan kejayaan bangsanya dapat diasah melalui jenjang pendidikan. Seperti yang dipesankan Bapak pendidikan Indonesia, Kihajar Dewantara bahwa melalui pendidikanlah sebuah bangsa akan mampu mewujudkan kejayaannya. Namun hanya sebagian kecil diantaranya yang mampu mengenyam dunia pendidikan sampai ke jenjang tertinggi, jenjang perguruan tinggi. Salah satu diantaranya adalah kita, sedikit kaum muda yang diberi keberkahan Tuhan untuk menyandang gelar mahasiswa. Maka sebagai mahasiswa seyogyanya kita berbahagia.
            Sejatinya, mahasiswa merupakan kaum muda intelek yang diproyeksikan menjadi pembaharu dimasa yang akan datang. Realisasi pemikiran-pemikiran besar yang didapat melalui studinya menjadi tumpuan ketercapaian tanggung jawab yang secara otomatis disematkan padanya. Agar mampu memiiki pemikiran-pemikiran besar mahasiswa harus bersungguh-sungguh melaksanakan tugasnya secara konsisten yakni belajar. Kegiatan belajar mahasiswa tak hanya berkutat pada penguatan hard skill semata namun juga harus menyentuh pada pengembangan soft skill. Kesempurnaan hard skill akan didapat mahasiswa melalui pelaksanaan trilogy pendidikan secara aktif yakni membaca, menulis dan berdiskusi dalam berbagai kegiatan kemahasiswaannya. Sedangkan kematangan soft skill harus diwujudkan mahasiswa melalui berbagai kegiatan yang bersinggungan langsung dengan penyelesaian problematika  masyarakat dan bangsa. Sebab sebaik-baik mahasiswa adalah yang memiliki hard skill dan soft skill yang sama baiknya. Hanya dengan kesungguhanlah mahasiswa ideal yang didambakan itu dapat diwujudkan. Maka menjadi mahasiswa merupakan momentum perjuangan.
            Berjuang menjadi mahasiswa ideal tidaklah mudah. Sebab idealnya mahasiswa memiliki kemapanan pengetahuan, kematangan emosional dan kesempurnaan spiritual. Kapasitas itulah yang menjadi penuntun mahasiswa menelurkan pemikiran-pemikiran besar yang akhirnya direalisasikan untuk kejayaan diri, keluarga, masyarakat dan bangsanya. Maka yang harus kita lakukan adalah berjuang mengidealkan diri sebagai mahasiswa saat ini juga.
Cucu Sutrisno
Mahasiswa PKnH
PJS Kadept. SOSPOL BEM FIS UNY 2012

Selasa, 03 Juli 2012

Melawan Pragmatisme Dunia Kampus


       Sejatinya dunia kampus adalah tempat pembentukan pemikir-pemikir kritis yang cerdas, tempat lahirnya generasi muda (mahasiswa) yang mempersoalkan ketimpangan dan kesenjangan menentang realitas objektif yang dianggap bertentangan dengan realitas subjektif. Output Universitas adalah mahasiswa yang memperjuangkan nilai-nilai yang menyangkut dengan kehidupan orang banyak yang termanifestasi dalam bentuk aksi-aksi yang bersifat lunak maupun aksi-aksi yang radikal. Untuk menjawab tantangan tersebut, pola pembinaan kampus harus keluar dari orientasi mencerdaskan menuju tataran pembentukan mahasiswa yang kritis dan peka dengan aspek sosial. 
           Tarikan pragmatis yang menggiurkan menyebabkan nilai-nilai perjuangan mahasiswa tergadaikan. Mahasiswa zaman sekarang adalah mesin intelektual yang dicetak perguruan tinggi untuk diluluskan kemudian melemparkannya ketengah masyarakat untuk membombardir masyarakat luas dengan berbagai retorika, wacana, yang kesemuanya menggunakan bahasa mesin intelektual ,  tak jarang kata yang di ucapkan merupakan kata serapan dari bahasa asing yang belum dimuat dalam kamus besar bahasa indonesia. Akibatnya masyarakat awam tak paham penjelasan bahasa mesin intelektual tadi dan hanya bisa diam.
       Praksis pola pembinaan mahasiswa yang dibumikan selama ini menjadi penyebab lahirnya  mahasiwa yang cenderung berfiikir pragmatis. Pertama, sistem penilaian akademik yang berorientasi hasil dan mengesampingkan proses, kemudian mendorong mahasiswa  melakukan apa saja demi untuk mendapatkan nilai baik. Hal tersebut semakin memperjelas  pragmatisme  mahasiswa yaitu lulus cepat dan mendapatkan nilai yang baik tanpa memiliki sifat kritis. 
         Kedua,mahasiswa suka yang lebih praktis, misalnya slide presentasi yang diberikan dosen. Tentu hal tersebut tidaklah cukup. Kalau hanya mengandalkan pemberian dosen, secara langsung mahasiswa mengokohkan budaya doktrinasi satu sudut pandang yang mengakibatkan gugurkan semangat kritis mahasiswa. 
        Ketiga, para pengajar di lingkungan perguruan tinggi mempunyai paradigma kutip-mengutip yang dianggap merupakan hal wajar, Selama ini, tak sedikit para dosen, yang terjebak pada pemahaman yang salah kaprah tentang kualitas sebuah makalah. Makalah yang baik kerap diidentikkan dengan banyaknya kutipan, dan banyaknya buku rujukan. Bukan menilai sejauhmana orisinalitas ide dan pemikiran para penulis makalah itu.
        Hal yang ada di atas tidak akan terjadi kalau mahasiswa benar-benar mengerti  tugasnya sebagai “Maha” siswa. Sejatinya mahasiswa harus  rajin membaca,  dengan membaca akan  menambah khazanah keilmuan yang menjadi landasan berpikir kritis dan peka dengan aspek sosial.
          Informasi yang masuk ke alam pikiran melalui membaca akan melahirkan ide-ide yang belum sempurna. Harus ada aktivitas untuk mengaktualkan bahan bacaan, salah satunya dengan budaya tulis. Hal ini karena keterbatasan daya ingat otak manusia, jika hanya membaca saja, bahan bacaan tersebut akan mudah hilang tanpa bekas. 
       Ikatlah ilmu dengan menuliskannya, begitu kata pepatah. Dengan menulis ide akan terekam dan memudahkan dalam koreksi serta penyebarluasan ide tersebut. Penyebarluasan ide berarti juga berbagi ilmu. Semakin besar ilmu itu tersebar semakin besar pula potensinya untuk bermanfaat. Jika ide tersebut mengajak ke perubahan yang baik, maka  hal tersebut menjadi aktualisasi koridor gerakan mahasiswa sebanarnya yaitu gerakan yang memperjuangkan nilai-nilai yang menyangkut dengan kehidupan orang banyak.
       Menulis juga merupakan sarana untuk melawan budaya Budaya lisan yang begitu mengakar dalam budaya nusantara. Oleh karena itu, di perlukan perubhan dalam pola pendidikan di lingkungan perguruan tinggi, pola yang di maksudkan adalah mendorong mahasiswa untuk lebih percaya diri dalam menuangkan ide kreatifnya dalaam bentuk tulisan dan menolak segala bentuk copy paste dari internet yang merupakan buah pikiran orang lain. Tunggu apalagi?, ayo menulis kawan.

Zainal Abidin
Pendidikan Kewarganegaraan dan Hukum

Organisasi Tanpa Konflik?


Bagaikan Alunan Musik Rock Tanpa Drum

          Konflik ? konflik itu apasih ? tentunya pandangan mengenai pengertian konflik menurut berbagai pendapat mengatakan bahwa ada kebenaran umum yang sering dipakai untuk menjelaskan konflik dalam kajian komunikasi, yakni konflik yang berarti konsekuensi dari interaksi. Kalau tidak berkonflik, ya jangan berinteraksi. Atau juga bisa diartikan, kalau masih punya kebutuhan untuk berinteraksi dengan manusia, mau tidak mau, kita harus siap menghadapi konflik. Memang konflik itu merupakan kenyataan yang sulit dihindari. Terlebih bila kita mengalami konflik dalam berorganisasi.
          Konflik bila kita lihat dari efeknya, setidaknya efek yang pertama, adalah konflik terkait dengan perbedaan tentang bagaimana memacu organisasi untuk lebih maju lagi. Kedua, adalah yang telah mengarah kepada penyerangan, pemboikotan, atau penghinaan antar anggota organisasi. Biasanya, konflik semacam ini terjadi ketika konflik itu sudah mendewakan kepentingan pribadi-pribadi didalam organisasi dengan menempuh cara-cara penyerangan dibalik layar atau melalui skenario keji dan pihak yang paling pertama kali dirugikan sebetulnya adalah organisasi.
          Apa yang membuat organisasi itu sangat rentan terhadap munculnya konflik? Secara umum penyebab konflik dalam organisasi itu sering dipicu karena beberapa hal seperti, definisi tanggung jawab atau tugas yang tidak jelas, tidak disepakati secara jelas, atau tidak dijalankan dengan jelas. Faktor internal dan faktor eksternal pun dirasa dapat menjadi pemacu tumbuhnya konflik. faktor internal yang dapat memacu konflik diantaranya, kemantapan organisasi. Organisasi yang telah mantap lebih mampu menyesuaikan diri sehingga tidak muda terlibat konflik dan mampu menyelesaikannya.
          Sedangkan pada faktor eksternalnya dapat dijumpai, keterbatasan sumber daya. Kelangkaan suatu hal yang dapat menumbuhkan persaingan dan seterusnya dapat berakhir menjadi konflik. Kekaburan aturan/norma di masyarakat. Dan terakhir, pola interaksi dengan pihak lain.
          Ada beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk mencegah atau untuk menangani konflik antara lain, introspeksi diri. Mengevaluasi pihak-pihak yang terlibat, Kita dapat mengidentifikasi kepentingan apa saja yang mereka miliki, bagaimana nilai dan sikap mereka atas konflik tersebut dan apa perasaan mereka atas terjadinya konflik. Identifikasi sumber konflik. Dan terakhir, mengetahui pilihan penyelesaian atau penanganan konflik yang ada dan memilih yang tepat.
          Selain penyelesaian konflik seperti yang saya sarankan tersebut, ada beberapa hal lain yang juga dapat dilakukan dalam menyelesaikan konflik, teruntuk untuk menyelesaikan konflik dalam oranisasi di kampus, yaitu mengetahui terlebih dahulu penyebab konflik, kemudian dirundingkan atau dimusyawarahkan mengenai solusinya. Jika musyawarah tidak mencapai mufakat, maka diilakukan voting, dan mengambil solusi dari suara mayoritas. Namun sebelum dilakukan voting ada baiknya disosialisasikan dengan cara yang baik, bahwa suara minoritas harus lapang dada menerima suara mayoritas. Jika voting menimbulkan konflik baru, maka disinilah peran ketua organisasi sangat diperlukan, ambil langkah tegas dalam menyelesaikan konflik namun harus dengan cara bijak dan melakukan pendekatan persuasif kepada mereka yang terlibat konflik. Bicarakan kembali tentang visi dan misi organisasi, agar anggota sadar bahwa kita memiliki visi dan misi yang sama dalam organisasi, dan sebaiknya kita mengedepankan visi dan misi dibanding ego pribadi. Peran ketua atau pemimpin sangat mempengaruhi kinerja suatu organisasi.
          Konflik memang sering terkesan negatif. Namun dibalik itu semua sebenarya ada hikmah yang dapat kita ambil dari terjadinya konflik tersebut. Misalnya, kita lebih berhati-hati lagi dalam mengambi keputusan, lebih menghargai pendapat orang lain, lebih dewasa dari usia dalam menyelesaikan atau menyikapai suatu permasalahan. Berorganisai tanpa konflik rasanya sangat mustahil sekali dapat terwujud. Mungkin dapat diibaratkan, organisasi tanpa konflik, bagai sayur tanpa garam, dan bagaikan musik rock tanpa tabuhan drum.


Fitri Timorista DS
Pendidikan Kewarganegaraan dan Hukum


Senin, 18 Juni 2012

TIPS JITU MENGHADAPI UAS


TIPS JITU MENGHADAPI UAS

Oleh:
Puji Nuryati
Mahasiwi Administrasi Negara 2011
FIS UNY

Artikel ini ditujukan untuk teman-teman yang sedang menghadapi UAS. Selamat mencoba !

Kartun- Belajar
sumber: http://bratakusuma.files.wordpress.com
Setelah kuliah selama satu semester, kelulusan kita umumnya ditentukan oleh ujian akhir semester selama satu atau dua jam. Sebetulnya sih sepertinya tidak adil, namun apa daya kita tidak dapat merubahnya dan harus menghadapinya. Gambar konyol diatas mungkin mewakilkan betapa stressnya mahasiswa atau pelajar SMP/SMA  menghadapi UAS. Hal ini bisa jadi karena kurangnya persiapan pengetahuan tentang mata kuliah yang akan diujikan. Terus bagaimana sih agar kita lebih siap menghadapi UAS, ga seperti gambar diatas?  Berikut ada beberapa tips dan trik menghadapi Ujian Akhir Semester (UAS):

Melengkapi bahan-bahan catatan yang akan dibutuhkan saat UAS.
Mempelajari dan memahami semua bahan-bahan yang ada di dalam kisi-kisi. Jika tidak paham, cobalah untuk menanyakan hal yang kurang dimengerti pada teman yang paham. Lalu agar semua catatan mudah untuk dipelajari, cobalah untuk membuat rangkuman kembali sesuai dengan kisi-kisi yang diberikan dengan penjelasan sesuai dengan bahasa kita.

Bikin catatan kecil.
Eits, bukan untuk nyontek loh ya, tapi untuk membantu kamu mengingat materi daripada hanya sekedar menghafal. Selain itu, catatan kecil tersebut sangat berguna untuk membantu kita untuk mereview kembali ingatan kita sebelum ujian dimulai. Oia jika kamu orangnya visual, bisa kamu tambahkan gambar loh. It’s must be interesting.

Bikin mind-mapping.
Istilahnya keren yak? Bukan cuma istilahnya, implementasinya juga tak kalah keren. Mind-mapping ini membantu kamu lebih mengerti alur materi yang kamu sedang pelajari. Setelah seseorang bikin mind-mapping dengan sukses, orang  biasanya bisa memahami materi dengan lebih baik. Bahkan tidak mungkin bila orang menghafalnya dengan mudah karena menganggap materi tersebut sebuah dongeng atau cerita pendek dengan alurnya yang khas.

Cari referensi soal.
Biasanya soal-soal tahun lalu bisa dijadikan referensi pembelajaran. Bukan tidak mungkin jika soalnya ternyata sama persis dengan soal yang diberikan tahun lalu. Paling tidak, dengan referensi soal tahun lalu, kamu bisa mendapatkan gambaran tentang bagaimana sih kisaran soal yang akan diberikan. Referensi soal tersebut sangat membantu memprediksi bahan yang akan keluar beserta strategi yang akan dilakukan untuk menghadapi soal dengan tipe demikian.

Buatlah kelompok belajar.
Hal ini sangat berguna bagi kamu yang bertipe auditorial. Maksudnya? Di kelompok belajar ini, kamu bisa belajar dengan mendengarkan penjelasan ulang dari temen kamu. Di kelompok belajar ini, kamu juga bisa seru-seruan bareng dengan temen-temen kamu, asal tidak kebablasan sajanamun tips lain yang perlu di perhatikan yaiyu  pilihlah kelompok belajar yang benar-benar belajar materi yang diujikan.bukan malah keasyikan membicarakan yang lain.

Belajarlah dengan kondusif.
Kebiasaan belajar manusia yang berbeda-beda seperti kebiasaan belajar dengan lebih baik ketika bisa bergerak bebas dan ada alunan musik yang diputar saat sedang belajar. Bisa dibilang orang tersebut merupakan tipe orang kinestetik dan musikal. Entah kenapa dengan kedua hal tersebut, seseorang bisa memahami dan menghafal dengan lebih baik. Jadi, bagaimanakah kekondusifan belajar kamu? Find it and love it!

Konsumsi asupan bergizi.
Kesehatan itu penting, setuju? Bukan mentang-mentang atas nama UAS, jadwal makan kita jadi tidak teratur dan asupannya juga jadi kurang. Menunya ya tetep, 4 sehat lima sempurna. Karena kesehatan itu mahl harganya. So, sayangi diri kamu sendiri ya.

Kurangi bergadang
Menurut penelitian, tidur malam itu tidak baik untuk kesehatan tubuh. Kenapa? Karena pada larut malam terjadi detoksinasi tubuh, yang mana terjadi penyaringan racun-racun yang ada dalam tubuh. Dan menurut peneliti, sebaiknya kita berada dalam aktivitas terendah atau istirahat, bukannya malah bergadang atas nama UAS. Umm, mungkin sulit, tapi kamu bisa bangun pada dini harinya untuk melanjutkan belajar kamu.

Banyak doa dan minta restu orang tua.
Mengapa berdoa? Manusia boleh berencana tetapi Tuhan lah yang menentukan. Maka jangan lupa berdoa, agar ilmu yang telah kita pelajari dapat bermanfaat ketika UAS. Juga doa orang tua untuk anaknya katanya frekuensi dikabulkan itu lebih besar daripada hanya doa kita sendiri.

Buatlah Catatan Raksasa Yang Ditempel Di Dinding/kaca. (tempat-tempat yang sering terlihat).
Metode ini di gunakan untuk kamu yang perlu hafalan karena hasil research membuktikan bahwa secara tidak langsung tulisan yang sering kita lihat akan mudah diingat dalam memori otak. Namun kini tak perlu banyak Note kecil lagi karena adanya fasilitas aplikasi stiky notes di leptop lebih mengefisiensikan pengguna, khususnya bagi kamu yang jarang di rumah.

Usahakan tiga atau dua hari sebelum UAS dilaksakan, agar meluangkan waktu untuk refreshing terlebih dahulu supaya otak kembali fresh dan tidak stress.

Wah Banyak sekali ya aturan mainnya lalu menjelang hari H apa yg perlu kita persiapkan?
Ada sih tips dan trik lain yang harus dikerjakan pas mau ujian, berikut uraiannya:
Malu Bertanya Sesat Di Jalan.
Nyontek? Bukann! Pengalaman justru karena nyontek seringkali jawab pilihan ganda yang udah kita yakini malah jadi salah. Maksud dari bertanya disini ialah jangan ragu bertanya kepada guru atau dosen pengajar tentang materi apa saja yang akan diujikan di ujian nanti. Pengalaman pula biasanya mereka memberi tahu materi, bab-bab yang akan keluar nanti di lembar pertanyaan ujian. tetapi kadang ada juga dosen atau guru yang enggan memberi tahu bahkan menjawabnya dengan lelucon yang bikin kita malu. Hehehe. Tapi nggak ada salahnya kan kita bertanya bagaimana soal yang akan diujikan agar saat belajar kita bisa pelajari benar-benar apa saja yang akan diujikan nanti?

Pelajari Soal Terdahulu.
Buat mata kuliah atau mata pelajaran tertentu, beberapa dosen/guru ada yang malas untuk membuat soal baru. Jadi kita bisa bertanya apa sih soal-soal yang akan dujikan diujian nanti kepada kelas lain yang ujiannya lebih dulu dari kelas kita atau soal-soal dari tahun terdahulu yang bisa kita dapatkan dari kakak kelas kita. Walaupun soal tersebut tidak bisa menjadi acuan buat kita belajar. Namun jika kita beruntung soal yang diujikan terdahulu sering kali memiliki banyak persamaan dengan soal yang akan diujikan nanti loh!

Stop Cramming! Susun Rencana Belajar!
Kebiasaan nih pelajar zaman sekarang karena banyaknya kegiatan di sekolah atau kampus jadi nggak punya waktu buat belajar hingga akhirnya baru ingat besok ujian terpaksa harus cramming. Oh iya, buat yang nggak tau apa itu cramming, cramming itu istilah baru dalam bahasa inggris untuk belajar semalaman suntuk sebelum ujian. Crammin berbahaya untuk daya ingat kita saat ujian. Karena kondisi otak kita saat bergadang dan belajar dalam kondisi yang penat ditambah panik, justru otak kita lelah dan tidak sanggup menerima pelajaran yang kita pelajari untuk persiapan ujian besoknya. Idealnya otak manusia dapat menerima pelajaran saat kondisi tenang dan gelombang otak yang rendah.

Latihan Terus Menerus.
Pada dasarnya memang kita semua harus belajar terus menerus, jangan hanya ketika akan ujian saja kita baru belajar. Untuk pelajaran bahasa, book based test, hal ini tidak bisa kita pelajari instan. Sebaiknya gunakan waktu untuk mencicil ingatan kita dalam pelajaran tersebut di pagi hari selama 30 menit atau lebih agar terpatri di otak kita.
Kemudian yang paling penting adalah cobalah yakin terhadap kemampuan diri sendiri dan bersikap jujur. Percayalah dengan segala usaha yang sudah kita lakukan akan menuai hasil yang memuaskan. Selamat  menjalani UAS!

*Disadur dari berbagai sumber dengan sedikit penyesuaian

Senin, 11 Juni 2012

Mewujudkan Kesadaran Demonstrasi yang Damai


Demonstrasi merupakan sesuatu hal yang wajar dan lumrah dalam suatu negara yang berbasis demokrasi, seperti Negara Indonesia. Ini merupakan salah satu bentuk nyata negara dalam memberikan kebebasan berpendapat. Aturan itu termaktub dalam UUD 45 ataupun UU No. 9 Tahun 1998 Pasal 9 Ayat 1 Tentang Kebebasan Berpendapat Di Depan Umum. Bentuk pelaksanaannya berupa unjuk rasa atau demonstrasi, pawai, rapat umum atau mimbar bebas. Tentunya tidak wajar bila negara demokrasi tetapi tidak membuka ruang dan peluang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi, termasuk melalui demonstrasi karena fungsi demontrasi sendiri merupakan bagian dari salah satu bentuk pngawasan dan kontrol terhadap berjalannya roda pemerintahan yang ada. 

Hal terpenting untuk dilakukan saat ini adalah bagaimana mewujudkan demonstrasi yang damai dan tidak menggagu ketertiban umum. Sehingga apa yang disampaikan dapat didengar kalayak umum baik masyarakat, penguasa, pejabat, maupun elit politik negara. Mengingat demonstrasi yang berkembang dan terjadi diberbagai daerah baik yang dilakukan oleh masyarakat, LSM, Ormas, Parpol, maupun mahasiswa seringkali berujung anarkis dan ricuh.

Mahasiswa yang notabene sebagai kaum intelektual muda sepatutnya menyadari betul bahwa demonstrasi anarkis yang dilakukan oleh beberapa mahasiswa diberbagai perguruan tinggi baik negeri maupun swasta anarkis dan jelas merugikan berbagai kalangan pihak. Hal ini juga merupakan preseden buruk dan kontra produktif terhadap visi perjuangan para demonstran sendiri.

Demonstrasi pada dasarnya bisa membawa sebuah pencerahan terhadap permasalahan yang ada dengan mengusung suara aspirasi yang kritis, aspiratif, dan solutif yang mewakili seluruh keinginan dan harapan bersama untuk sebuah kemajuan dan kebaikan negara. Namun hadirnya demonstrasi kini banyak sekali melenceng dari yang diharapkan. Demonstrasi bukannya membawa suatu solusi, tetapi justru membawa problem baru yang berdampak merugikan.

Kondisi ini terlihat dari anarkisme massa yang merusak berbagai sarana prasarana yang ada dan menggangu ketertiban umum, seperti memblokade jalan yang menggangu pengendara umum, membakar ban bekas, spanduk, foto-foto, bendera, merusak pagar, dan fasilitas-fasilitas umum lain sebagainya. 

Mahasiswa yang merupakan gudang intelektual seharusnya lebih bisa menjadi contoh bagi generasi penerus yang idealis, kritis, cerdas. Dengan keintelektualan mahasiswa, sepatutunya bijak dalam menyikapi segala isu yang ada dan berkembang. Sehingga mahasiswa tidak cenderung anarkis dan gegabah dalam menentukan sikap. Demikian itu adalah mahasiswa yang mampu mengoptimalkan otak dari pada otot, karena sejatinya mahasiswa merupakan kaum terpelajar dan intelektual yang sepatutnya menjadi panutan yang baik bagi generasi selanjutnya sebagai agen perubahan “agent of change”.

Tidak dipungkiri pula bahwa masih banyak mahasiswa yang menjunjung tinggi perdamaian/AKSI damai. Pertanyaannya bagaimana mahasiswa bisa mewujudkan AKSI atau demonstrasi yang damai dan tidak anarkis?

Pertama, mahasiswa seharusnya mampu memanajemen AKSI yang baik. Mahasiswa harus mampu mengontrol dan mengkoordinir diri sendiri maupun para anggota demonstran lainya. Kedua, mahasiswa seharusnya mengetahui duduk permasalahan isu apa yang sedang terjadi atau aspirasi apa yang akan di sampaikan. Kata lain adalah pencerdasan terhadap isu yang diangkat. Bisa jadi mahasiswa yang turut dalam demonstrasi, sebenarnya mereka nol dan tidak tahu menahu apa yang sedang diaspirasikan. Lebih buruknya lagi mereka melakukan bukan atas dasar tujuan keinginan bersama, tetapi lebih karena gengsi ataupun karena ikut-ikutan dan kemungkinan besar karena kepentingan lain. Ketiga adalah mahasiswa ataupun masyarakat lebih bersikap dewasa dan bijaksana terhadap pemberitaan di berbagai media. Terkadang apa yang diberitakan media tidaklah sesuai dengan kondisi lapangan yang sebenarnya karena media kini banyak sekali yang memiliki kepentingan tersendiri dalam pemberitaannya. Apabila mahasiswa tidak  bijak, mereka akan lebih cenderung terprovokasi. 

Dan terakhir adalah mahasiswa jangan terpancing provokasi baik yang dilakukan oleh orang lain maupun aparat petugas keamanan, hal ini karena sebagain besar unjuk rasa yang seringkali terjadi ricuh adalah juga ulah para petugas keamanan, dan bukan karena kesalahan sepihak mahasiswa ataupun yang lainya.

Dari beberapa hal tersebut, semoga demonstrasi yang ada bisa terarah dan tersalur aspirasinya tanpa merugikan berbagai pihak. Perlu dicatat bahwa demonstrasi tak selamanya dan tak seharusnya berujung anarkis, selama kita bisa mengontrol dan sadar akan hak dan kewajiban baik diri sendiri maupun orang lain. 

Banyak yang dapat kita jadikan pelajaran, karena menurut Busyro Muqoddas dalam bukunya Menata Ulang Indonesia, AKSI/demonstrasi adalah lahan untuk menguji kepemimpinan mahasiswa yang sebenarnya. Beliau mengatakan bahwa presentasi kehadiran mahasiswa di dalam kelas yang harus 75% itu cukup sangat membebani mahasiswa. Negara ini tidak dapat lagi dipercayakan pada mereka yang mempunyai IPK 4.00* dan 100% yang hadir dalam kelas. Justru negara ini seharunya dipercayakan pada mereka yang mau turun ke jalan untuk AKSI. Karena sekali lagi bahwa AKSI adalah lahan bagi para mahasiswa untuk menguji kepemimpinan mahasiswa.

Terus berjuang untuk mewujudkan kesadaran demonstrasi damai.
Hidup Mahasiswa !!!
Hidup Rakyat Indonesia !!!

Ahmad Syaiful Hidayat
Mahasiswa Pendidikan Geografi
Kadept. Media dan Jaringan
BEM FIS UNY 2012

*Di muat dalam Opini Kedaulatan Mahasiswa, BEM KM UNY, Edisi II/ April 2012

Kamis, 19 April 2012

Antusiasme Semu Mahasiswa


Antusiasme Semu Mahasiswa

            Alun-alun utara Yogyakarta pada 16-18 maret dipenuhi kerumunan orang. Mereka berkumpul mengerumuni panggung untuk menyaksikan Karnaval Musik yang diadakan salah satu stasiun televisi swasta. Penonton yang memadati alun-alun utara begitu antusias berdesakan menuju tempat terdepan untuk menyaksikan sajian musik yang telah dipersiapkan. Padatnya alun-alun utara mengindikasikan besarnya antusiasme warga Yogyakarta dalam menyaksikan acara ini. Diantara penonton yang hadir,  sebagian besar adalah mahasiswa. Hal ini wajar, mengingat Yogyakarta merupakan kota pendidikan yang di isi banyak universitas baik negeri maupun swasta. Kiranya itu pula yang melatarbelakangi dipilihnya Yogyakarta sebagai tempat diadakannya karnaval musik. Karena sebagai kaum muda, mahasiswa cenderung menyukai musik sebagai sarana untuk mencurahkan ekspresi mereka.
            Mahasiswa merupakan kaum intelek yang di proyeksikan akan meneruskan perjuangan bangsa dimasa yang akan datang. Kemapanan pengetahuan dan kematangan emosional serta kesempurnaan spiritual  harus dimiliki mahasiswa melalui study-nya agar menjadi modal utama mahasiswa dalam membangun peradaban negeri dikemudian hari. Memiliki tanggung jawab yang begitu besar, mahasiswa dituntut mampu membedakan mana yang baik dan tidak baik. Untuk mewujudkan mahasiswa ideal yang diidam-idamkan itu, mahasiswa harus benar-benar menjalankan tugas utamanya secara konsisten yaitu belajar.
            Antusiasme mahasiswa ketika menyaksikan pertunjukan musik di Alun-alun utara beberapa waktu lalu terasa ganjil adanya. Sebab antusiasme mahasiswa saat belajar tak sebesar ketika menyaksikan pertunjukan musik. Pada saat menyaksikan pertunjukan music, mahasiswa rela berdesakan menuju tempat terdepan hanya untuk menyaksikan lebih dekat artis idola mereka, Namun pada saat perkuliahan, tak sedikit yang memilih duduk di jajaran bangku paling belakang dan ketika perkuliahanpun mereka asyik memijit key pet hand phone hanya untuk sekedar berbincang melalui sms atau mengunjungi berbagai jejaring sosial sebagai pelampiasan ungkapan kebosanan mereka ketika diperkuliahan. Tak hanya itu meskipun pertunjukan musik sampai larut malam mereka masih bersemangat menyaksikan pertunjukannya sampai akhir dan hal ini berbeda ketika mahasiswa mengikuti perkuliahan, mengerjakan tugas, mengikuti diskusi dan seminar serta berbagai kegiatan kemahasiswaan yang tak sedikit  dari mahasiswa cepat merasa jenuh dan bosan. Kemudian meskipun pertunjukan musik yang mereka saksikan  memerlukan biaya dan waktu yang tak sedikit ternyata tak menyurtkan antusiasme mereka menyaksikannya dan hal ini berbeda ketika mahasiswa harus menyisihkan rupiah untuk membeli buku dan meluangkan waktu untuk membaca serta mengerjakan tugas yang cenderung ogah-ogahan. Mengingat tanggung jawab besar yang diemban mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa, hal ini jelas terasa ganjil adanya karena seharusnya antusiasme mahasiswa ketika belajar jauh lebih besar dari pada antusiasme ketika menyaksikan pertunjukan musik. Namun jika yang terjadi justru sebaliknya maka antusiasme itu hanyalah “antusiasme semu”.
            Agar mampu melaksanakan tanggung jawab besar yang diembannya, mahasiswa harus memiliki antusias yang lebih terhadap kegiatan belajar melebihi antusiasme terhadap hal lain. Paling tidak antusiasme mahasiswa harus diterapkan pada tiga hal. Pertama, berantusiaslah ketika perkuliahan semisal duduk dikursi terdepan, memperhatikan perkuliahan dengan seksama dan mencoba memahami materi yang disampaikan sebaik mungkin serta aktiflah bertanya apabila ada yang kurang atau tidak dimengerti. Kedua,  berantusiaslah diluar perkuliahan semisal mengerjakan tugas dengan serius, membaca bahan pembelajaran dari berbagai sumber dan mempersiapkan bahan-bahan pembelajran yang diperlukan. Ketiga, berantusiaslah di waktu luang semisal aktif dalam kegiatan kemahasiswaan, mengikuti diskusi dan seminar akademis, membuat program kreatifitas mahasiswa, serta melakukan pengabdian kepada masyarakat dan peka terhadap persoalan yang timbul dalam masyarakat. Dengan berantusias pada hal-hal yang tepat, semoga kelak kita mahasiswa akan benar-benar menjadi agen of changce bagi terwujudnya cita-cita bangsa.

Cucu Sutrisno
Mahasiswa PknH
Staff Dept. SosPol
BEM FIS UNY

*pernah dimuat di Buletin Lentera kampus Merah, Edisi II, April 2012

VISI BARU GERAKAN MAHASISWA


VISI BARU GERAKAN MAHASISWA

“Selama kaum terpelajar kita melihat perjuangan kemerdekaan sebagai akademi saja, selama itulah perbuatan-perbuatan yang diharapkan itu kosong belaka. Biarlah mereka melangkah keluar dari kamar pelajaran serta meleburkan diri dalam politik revolusioner yang aktif.” (Tan Malaka)

Memang bukan tema yang asing lagi membincangkan gerakan mahasiswa. Namun bukan berarti basi. Bukan berarti membuang waktu dan energy. Karena setiap saat kita butuh visi baru tentang segala aspek kehidupan, termasuk gerakan mahasiswa. Gerakan mahasiswa telah mengalami beberapa masa keemasannya. Terhitung sejak masuknya pendidikan yang dienyam oleh kaum pribumi, gerakan mahasiswa (yang pada masa itu identik dengan istilah ‘pemuda’), telah berperan aktif dalam dinamika perjuangan bangsa. Pembentukan Jong (young) Java tahun 1915, Jong Sumateranen Bond tahun 1971, Jong Ambon tahun 1918, Jong Islamieten Bond tahun 1925 menjadi symbol progresivitas kaum terdidik.
Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 dan dikumandangkannya lagu “Indonesia Raya’ di Gedung Indonesische Clubgebouw dihadapan pemerintah colonial menjadi pemantik yang dramatis; pengobar api perjuangan kemerdekaan Indonesia. Gerakan pemuda dengan puncaknya pada proklamasi menjadi preseden dan romantisme pemuda generasi beberapa decade setelahnya Dengan pengalaman represivitas dan otoritarianisme era Orde Baru, mahasiswa menyatukan dirinya dalam satu gerakan massa, yang pada puncaknya, Mei 1998. Gerakan mahasiswa menuntut turunnya Soeharto mendapatkan keinginannya setelah presiden kedua itu menyerah untuk menurunkan kekuasaannya.
Pasca peristiwa tersebut, gerakan mahasiswa mengalami penurunan baik kualitas dan kuantitas. Sudah sangat jarang kita mendengar berita tentang keberpihakan “pelajar yang bergelar maha” ini terhadap permasalahan social kemasyarakatan. Justru acap kali kita dikagetkan dengan tingkah laku negatif mahasiswa. Mahasiswa tampaknya perlu disadarkan kembali dalam sebuah kerangka berfikir bahwa dirinya adalah satu kelompok yang berada dalam struktur social masyarakat, memiliki kelebihan dalam keilmuan, dan jaringan social-politik nasional.
Menjadi mahasiswa, sadar atau tidak sadar segala aktivitas yang kita lakukan baik kegiatan akademis maupun non akademis, memberikan pengaruh terhadap kemajuan bangsa. Seorang mahasiswa yang belajar sungguh-sungguh dan expert di bidangnya dapat mengharumkan nama bangsa dengan keikutsertaan dan keberhasilannya dalam perlombaan tingkat internasional. Selain itu, ilmu pengetahuan yang dimilikinya dapat digunakan untuk berbagai inovasi di bidangnya. Seorang mahasiswa yang aktif di organisasi kemahasiswaan dapat mengasah jiwa kepemimpinannya, sehingga kelak menjadi pemimpin yang teruji. Oleh karena itu, berjuang untuk kemajuan bangsa adalah pilihan paradigmatic yang tidak terelakan oleh seorang mahasiswa. Mengabaikan pilihan ini sama saja memunafikkan eksistensi seorang mahasiswa.
Kedepan perlu dipahami bahwa gerakan mahasiswa merupakan sebuah kontinuitas gerak. Aktivitas boleh berganti, strategi dan taktik dapat saja berubah, varian penindasan dapat saja lebih cantik, tetapi spirit perjuangan tidak akan pernah pudar. Gerakan mahasiswa akan selalu hadir dalam dunia yang masih dikotomik. Artinya, bila ada kelompok yang menindas, gerakan mahasiswa akan melakukan perjuangan akselarasi bagi kaum tertindas. Hal ini sudah menjadi tanggung jawab moral gerakan mahasiswa senantiasa memihak pada kaum yang tertindas.
“Lebih baik diasingkan daripada menyerah kepada kemunafikan” (Soe Hok Gie).

Danu Eko Agustinova,
BEM FISE 2008 dan Ketua HMPS 2009

*pernah dimuat di Buletin Lentera kampus Merah, Edisi I Pilwarek UNY, Maret 2012


SIAPA ITU MAHASISWA ? Siapa? Siapa?


SIAPA ITU MAHASISWA ? Siapa? Siapa?

Tulisan ini berawal dari renungan penulis tentang hiruk pikuk gerakan Mahasiswa yang berdasarkan empirik dan diskusi dengan beberapa teman. Jika kita membicarakan tentang mahasiswa tak akan pernah habis untuk dibicarakan, Mahasiswa adalah sekelompok pemuda yang bisa saja dikatakan sebagai kelompok intelektual bahkan ekslusif. Kenapa harus dikatakan ekslusif? Gelar mahsiswa yang disandang memanng ada bagi orang-orang khusus karena tidak semua orang mempunyai gelar seperti ini.

Mahasiswa mampu menorehkan prestasi gemilang dalam panggung politik nasional, dari semenjak angkatan 66 yang menggulingkan Soekarno, angkatan 98 yang menggulingkan rezim otoriter soeharto sampai membawa arah gerakan reformasi yang belum tuntas. Memang bisa dikatakan Mahasiswa sebagai aktor dari perubahan politik tersebut, namun hemat penulis gerakan yang dibangun Mahasiswa belum tuntas dan belum kepada tataran perbaikan. Sebagai contoh penggulingan soekarno yang dianggap otoriter ternyata mampu melahirkan Rezim yang jauh otoriter. Sedangkan era pasca penggulingan Soeharto gerakan yang dibangun lebih cenderung euphoria semata. Hal ini berbeda dengan waktu bergulirnya soempah pemoeda, apapun ideologinya, bangsa, dan bahasa ternyata mampu menjadi inspirasi untuk genarasi selanjutnya dalam menata suatu bangsa. Era reformasi yang dianggap sebagai zaman pencerahan politik nasional pada dasarnya melahirkan dilema bagi generasi saat ini yang hendak dibawa kemana gerakan Mahasiswa sekarang. Dilema itu berdasarkan pada pijakan politik nasional yang kurang membaik, Korupsi dan otonomi daerah yang kurang dalam penanganannya, gejolak antar daerah yang mengancam disintegrasi bangsa, belum lagi dikaitkan dengan konflik antar etnik. Lantas dimanakah peran Mahasiswa yang dikatakan sebgai kelompok intelektual ?

Format gerakan Mahasiswa saat ini yang bisa jadi diberbagai kampus lebih cenderung sebagai musuh bukan menjadikan persaingan sehat dalam mengkampanyekan politik mahasiswa yang elegan dan santun. Tarik menarik pengaruh yang dilakukan oleh gerakan eksternal dalam peta politik sengaja dimasukan dalam gerakan internal kampus memang tidak bisa dibantah. Dengan kesimpulan gerakan Mahasiswa yang independen jauh dari harapan dan semuanya berawal dari keberpihakan. Jika terus dilakukan dengan gerakan Mahasiwa yang dibangun lebih menonjolkan arus politiknya dibandingkan membangun kultur intelektual, apapun itu akan berakhir pada euphoria kemenangan tanpa roh substansi yang jelas berdasarkan pendekatan empirik-historis. Saatnya kini paradigma yang dibangun Mahasiswa dengan melakukan otokrtik, politikus-politikus yang berdiri tegak dalam pemerintahan mereka adalah mantan Mahasiswa juga, dengan paradigma sebagai musuh yang ditanamkan semenjak Mahasiswa maka ber-output pada hasil perilaku penjabat-penjabat pemerintah yang mampu kita lihat saat ini. Jika paradigma yang dibangun belum diubah bisa jadi dimasa mendatang penjabat-penjabatnya saling sikut, saling injak, sandera politik  dan sebagainya. Asumsi itu berangkat pada kurang kapasitas dalam menentukan regulasi dalam pemerintahan sehingga generasi yang dihasilkan dalam gerakan Mahasiwa (GM) adalah mereka generasi kacungan, miskin intelektual, dan penjilat kekuasaan.

Ahmad Bahtiar faqihuddin
Mahasiswa Pendidikan Sejarah 2009
FIS UNY

*pernah dimuat di Buletin Lentera kampus Merah, Edisi I Pilwarek UNY, Maret 2012

 
Support : Dept.Media dan Jaringan | BEM FIS UNY | UNY
Copyright © 2011. BEM FIS UNY 2012 - All Rights Reserved
Template Modify by ipung Berjuang
Proudly powered by UNY